Minggu, 29 Januari 2017
Senin, 08 Februari 2016
Kesimpulan Tugas
Tugas 1 :
Manusia
harus dapat bersikap transenden dalam mengelola alam, dan menyadari bahwa
hidupnya berada secara imanen di alam. Akibat kegiatan atau perubahan pada
kondisi alamiah akan berdampak pada siklus-siklus di alam. Hal ini dimungkinkan
adanya perubahan dan transformasi pada sumber daya alam yang dapat bedampak
pada kelangsungan hidup manusia. Perancangan arsitektur haruslah menjadi sistem
yang sinergi antara komponen-komponennya sehingga menjadi sistem yang terus
menerus dan berkelanjutan. Oleh karena itu pemikiran rancangan arsitektur yang
menekankan pada ekologi, ramah terhadap alam, tidak boleh menghasilkan bangunan
fisik yang membahayakan siklus-siklus tertutup dari ekositem sebagai sumber
daya yang ada ditanah, air dan udara.
Tugas 2 : bagaimana cara kita
untuk mewujudkan arsitektur yang mementingkan keseimbangan lingkungan seperti
menjelaskan tentang arsitektur biologis yang membahas dua segi kehidupan yaitu
alam dan teknik; lingkungan manusia yang membahas tentang keterkaitan
keseimbangan lingkungan yang erat kaitannya dengan alam dan kehidupan manusia;
pengaruh energy yang membahas pentingnya perhitungan akan penggunaan energy
sebelum merancang; teknologi protektif (perlindungan).
Tugas 3 : Arsitektur pada dasarnya sangatlah bergantung
pada lingkungan. Arsitektur harus dapat memahami kondisi lingkungan dan tidak
merusak lingkungan yang ada.
Tugas 4 :
Semakin
lama manusi membangun bangunan tanpa memikirkan lingkungan sekitar. Seharusnya
tidak seperti itu, karena manusia tidak dapat jauh dari alam dan manusia harus
hidup berdampingan dengan alam.
Seorang Arsitek harus memikirkan harus dapat
menciptakan ruang/bangunan yang dapat menyatu dengan lingkungan dan tidak
merusak lingkungan sekitar sehingga dapat menjamin ruang hidup yang
berkualitas. Pengertian
dan penerapan arsitektur ekologi dapat membantu pencapaian tujuan tersebut yang
tinggi sekali sehingga arsitek masa depan penuh rasa tanggung jawab terhadap
sesama manusia dan terhadap alam sekitarnya.”
Tugas 5 : Pembangunan Giant Sea
Wall ini justru akan memperparah banjir karena akan memperpanjang aliran air
sungai dan akan mengakibatkan laju desimentasi meningkat dikarenakan laju
aliran air yang menurun, hal ini juga menimbulkan masalah karena perlu adanya
upaya pengerukan sungai yang tidak sedikit biayanya.
Dampak lain adalah penutupan dua pelabujan perikanan Nusantara. ribuan
nelayan harus dipindahkan. Pembangkit listrik muara karang juga harus ditutup
karena aliran air pindingin tidak lagi tersedia. kalaupun dipertahankan, biaya
operasinya sangat besar karena memerlukan pompa yang berjalan terus.
Tanggul laut raksasa yang direncanakan dalam sistem tertutup membuat air
tidak mengalir. Karena itu, kualitas lingkungan laut jakarta akan rusak.
Perkembangan Lingkungan Yang
Berkelanjutan
Definisi Lingkungan Hidup : Kesatuan ruang dan semua
benda , daya, keadaan, makhluk hidup , termasuk manusia dan perilakunya.
(UU.No24. 1907, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup).
Definisi
Berkelanjutan
Berkelanjutan berarti suatu proses
yang berlangsung lama. Tetapi kata berkelanjutan sering dipakai berkaitan
dengan kata pembangunan. Pembangunan
berkelanjutan adalah
proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat,
dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan
pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987). Pembangunan
berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable development. Salah
satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah
bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan
pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. (oman)
Banyak laporan PBB, yang terakhir
adalah laporan dari KTT Dunia 2005, yang menjabarkan
pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga tiang utama (ekonomi, sosial, dan
lingkungan) yang saling bergantung dan memperkuat.
Untuk sebagian orang, pembangunan
berkelanjutan berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan bagaimana mencari
jalan untuk memajukan ekonomi dalam jangka panjang, tanpa menghabiskan modal
alam. Namun untuk sebagian orang lain, konsep "pertumbuhan ekonomi"
itu sendiri bermasalah, karena sumberdaya bumi itu sendiri terbatas.
Ciri-Ciri Pembangunan
Berkelanjutan
Pembangunan yang berkelanjutan harus mencerminkan
tindakan yang mampu melestarikan lingkungan alamnya. Pembangunan berkelanjutan
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
- Memberi
kemungkinan pada kelangsungan hidup dengan jalan melestarikan fungsi dan
kemampuan ekosistem yang mendukungnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung.
- Memanfaatkan
sumber daya alam dengan memanfaatkan teknologi yang tidak merusak
lingkungan.
- Memberikan
kesempatan kepada sektor dan kegiatan lainnya untuk berkembang
bersama-sama di setiap daerah, baik dalam kurun waktu yang sama maupun
kurun waktu yang berbeda secara berkesinambungan.
- Meningkatkan
dan melestarikan kemampuan dan fungsi ekosistem untuk memasok, melindungi,
serta mendukung sumber alam bagi kehidupan secara berkesinambungan.
- Menggunakan
prosedur dan tata cara yang memerhatikan kelestarian fungsi dan kemampuan
ekosistem untuk mendukung kehidupan, baik masa kini maupun masa yang akan
datang.
Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1990),
menggariskan kebijakan lingkungan dalam kaitannya dengan pembangunan yang
berkelanjutan sebagai berikut.
- Menggiatkan
kembali pertumbuhan. Pertumbuhan yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi,
yang mempunyai kaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Indikator
untuk mengetahui kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari pendapatan
per kapitanya. Negara yang sedang berkembang pertumbuhan minimum dari
pendapatan nasional adalah 5 % per tahun.
- Mengubah
kualitas pertumbuhan yang berhubungan dengan tindakan pelestarian sumber
daya alam, perbaikan pemerataan pendapatan, dan ketahanan terhadap
berbagai krisis ekonomi.
- Memenuhi
kebutuhan dasar manusia, antara lain pangan, papan, sandang, energi, air,
dan sanitasi harus dapat memenuhi standar minimum bagi golongan ekonomi
lemah.
- Memastikan
tercapainya jumlah penduduk yang berkelanjutan. Jumlah penduduk yang mampu
mendukung pembangunan berkelanjutan adalah penduduk yang stabil dan sesuai
dengan daya dukung lingkungannya. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi
(> 2% per tahun), seperti yang terjadi di negara-negara sedang
berkembang perlu ada penurunan penduduk menuju tingkat pertumbuhan 0%
(zero population growth).
- Menjaga
kelestarian dan meningkatkan sumber daya dengan penciptaan dan perluasan
lapangan kerja, pelestarian, dan penggunaan energi secara efisien,
pencegahan pencemaran (air dan udara) sedini mungkin.
- Berorientasi
pada teknologi dalam pengelolaan resiko, antara lain penciptaan inovasi
teknologi dan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan.
- Menggabungkan
kepentingan lingkungan dan ekonomi dalam pengambilan keputusan. Misalnya,
kebijakan efisiensi penggunaan energi dengan biaya produksi yang minimal
dapat menggunakan energi semaksimal mungkin.
Rabu, 18 November 2015
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN GIANT SEA WALL DI TANGGUL JAKARTA
Wacana pembangunan tanggul laut
raksasa Jakarta dan reklamasi dalam bentuk pulau-pulau muncul pada era Gubernur
DKI Jakarta Fauzi Bowo, dengan usulan datang dari konsultan Belanda. Awalnya
disebut Sea Dike Plan Tahap III dan akan dibangun pada 2020-2030.
Proyek itu lalu dimasukkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) DKI untuk 2010-2030. Disebutkan, untuk mengatasi pasang naik air laut
yang semakin tinggi karena pemanasan global, akan dibangun pulau-pulau dengan
cara reklamasi. Pulau itu akan dilengkapi tanggul laut raksasa.
Belakangan, proyek yang kini disebut ”Pembangunan Pesisir
Terpadu Ibu Kota Negara” juga dimaksudkan untuk menyediakan sumber air bersih.
Asumsinya, tanggul akan terisi air tawar dari 13 sungai yang bermuara di
dalamnya. Dengan penyediaan air baku, diharapkan penyedotan air tanah pemicu
penurunan daratan hingga 10 cm per tahun dapat dihentikan.
Dengan alasan itu pula, pada Juni 2013, pemerintah pusat bersama
Pemprov DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten bersepakat mempercepat proyek itu.
”Untuk giant sea wall, dari jadwal awalnya tahun 2020, akan ground
breaking pada 2014,”
kata mantan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, di Jakarta, seperti
dikutip Kompas, Kamis
(7/3/2013).
Percepatan dilakukan karena mendesaknya kebutuhan fasilitas itu,
yaitu dipicu penurunan permukaan tanah di pesisir DKI yang akan mencapai 4
meter pada 2020.
Namun, menurut Muslim Muin, ahli oseanografi yang juga mantan
Kepala Program Studi Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB), percepatan itu
lebih karena besarnya minat swasta. Tak hanya menjadi infrastruktur pengendali
banjir, proyek itu memang disiapkan menghasilkan lahan reklamasi hingga 4.000
hektar.
Gubernur DKI Joko Widodo, yang juga presiden terpilih, mengakui
besarnya minat pihak swasta. ”Tanggul laut memang menarik secara bisnis dan
komersial sehingga banyak yang mau terlibat. Tidak hanya satu dua pihak, tetapi
banyak,” kata Jokowi (Kompas,
7/3/2013).
Kamis (9/10/2014), pemancangan tiang pertama itu akhirnya dilakukan,
menandai pembangunan tanggul laut sepanjang 32 kilometer atau Tahap I dari tiga
lapis tanggul. Dari panjang itu, pemerintah pusat dan Pemprov DKI hanya akan
menanggung pembiayaan 8 kilometer dengan dana Rp 3,5 triliun. Sisanya, 24 km
dibiayai swasta pemegang konsesi lahan reklamasi.
Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia Bernardus
Djonoputro mengkritik model pembangunan itu. ”Menggantungkan pembangunan
infrastruktur dasar kepada swasta merupakan cara berpikir keliru. Logikanya,
swasta mau masuk pasti kalau menguntungkan bisnis mereka,” tuturnya.
Dengan cara pikir swasta, tidak mengherankan jika proyek
cenderung meminggirkan kepentingan masyarakat, utamanya nelayan di pesisir.
”Itu berpotensi memicu kesenjangan luar biasa besar antara penduduk asli
Jakarta dan pelaku ekonomi baru yang akan muncul di pulau-pulau reklamasi ini.
Apakah itu sudah dikaji dampaknya?” kata Djonoputro.
Berdasarkan data dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan
(Kiara), sedikitnya 16.855 nelayan akan tergusur..
Setiap pembangunan kota perlu
diukur manfaat dan dampaknya bagi warga, demikian pula rencana pembangunan
tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta. Siapa akan menangguk untung dan siapa
kelak yang menanggung dampak buruknya harus terjelaskan kepada publik karena
kota dibangun untuk warga, bukan untuk segelintir elite, seperti politisi atau
pebisnis.
Menurut Muslim Muin, ahli oseanografi yang juga mantan Kepala
Program Studi Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB), tanggul laut raksasa
bukan jawaban masalah Jakarta. Sebaliknya, tanggul ini berpotensi membawa
banyak masalah baru.
Jika alasannya mengatasi banjir rob, kata Muslim, yang
dibutuhkan adalah tanggul pesisir. ”Saya setuju daratan Jakarta mengalami
penurunan signifikan. Karena itu, perlu ditanggul bagian pesisir yang menurun
itu, selain juga perlu menanggul sungai-sungainya,” ungkapnya.
Pembuatan tanggul laut, kata Muslim, dilakukan lebih untuk
melindungi 17 pulau reklamasi. Itulah mengapa pihak swasta yang mendapat
konsesi lahan reklamasi bersemangat.
Alasan menyediakan air bersih lebih tak masuk akal. ”Debit air
yang masuk Teluk Jakarta dari 13 sungai rata-rata 300 meter kubik per detik.
Kebutuhan air Jakarta hanya 30 meter kubik per detik. Artinya, ada 270 meter
kubik harus dipompa keluar, itu energi memompanya pakai apa?” katanya. ”Kalau
mau ambil air untuk bahan baku air bersih, lebih masuk akal dari sungai di
bagian hulu.”
Total biaya untuk memompa air dari tanggul dan meningkatkan
kualitas air dalam tanggul, menurut hitungan Muslim, 600 juta dollar AS per
tahun. ”Kalau alasannya kenaikan muka air laut, Singapura dan Malaysia juga
terancam. Apakah mereka membuat tanggul laut? Tidak, karena kenaikan muka air
laut tidak signifikan.”
Wacana lama
Wacana pembangunan tanggul laut raksasa Jakarta dan reklamasi
dalam bentuk pulau-pulau muncul pada era Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo,
dengan usulan datang dari konsultan Belanda. Awalnya disebut Sea Dike Plan
Tahap III dan akan dibangun pada 2020-2030.
Proyek itu lalu dimasukkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) DKI untuk 2010-2030. Disebutkan, untuk mengatasi pasang naik air laut
yang semakin tinggi karena pemanasan global, akan dibangun pulau-pulau dengan
cara reklamasi. Pulau itu akan dilengkapi tanggul laut raksasa.
Belakangan, proyek yang kini disebut ”Pembangunan Pesisir
Terpadu Ibu Kota Negara” juga dimaksudkan untuk menyediakan sumber air bersih.
Asumsinya, tanggul akan terisi air tawar dari 13 sungai yang bermuara di
dalamnya. Dengan penyediaan air baku, diharapkan penyedotan air tanah pemicu
penurunan daratan hingga 10 cm per tahun dapat dihentikan.
Dengan alasan itu pula, pada Juni 2013, pemerintah pusat bersama
Pemprov DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten bersepakat mempercepat proyek itu. ”Untuk giant
sea wall, dari jadwal awalnya tahun 2020, akan groundbreaking pada 2014,” kata mantan Menteri
Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, di Jakarta, seperti dikutip Kompas,
Kamis (7/3/2013).
Gubernur DKI Joko Widodo, yang juga presiden terpilih, mengakui
besarnya minat pihak swasta. ”Tanggul laut memang menarik secara bisnis dan
komersial sehingga banyak yang mau terlibat. Tidak hanya satu dua pihak, tetapi
banyak,” kata Jokowi (Kompas,
7/3/2013).
Kamis (9/10/2014), pemancangan tiang pertama itu akhirnya
dilakukan, menandai pembangunan tanggul laut sepanjang 32 kilometer atau Tahap
I dari tiga lapis tanggul. Dari panjang itu, pemerintah pusat dan Pemprov DKI
hanya akan menanggung pembiayaan 8 kilometer dengan dana Rp 3,5 triliun.
Sisanya, 24 km dibiayai swasta pemegang konsesi lahan reklamasi.
Sejak
awal, proyek giant sea wall Jakarta seperti hendak meniru tanggul
laut Belanda, negeri yang sebagian besar daratannya di bawah permukaan laut.
Tanggul laut raksasa di Belanda dibangun setelah negeri itu dilanda badai laut
berketinggian air 30 meter pada 1953.
Air yang hampir beku menerjang kota, menewaskan 1.835 orang,
memaksa 110.000 warga mengungsi. Tiga belas tanggul raksasa dibangun bertahap
selama 39 tahun sejak saat itu. ”Indonesia tidak memiliki badai laut,” kata
Muslim Muin, ahli oseanografi yang juga mantan Kepala Program Studi Kelautan
Institut Teknologi Bandung (ITB).
Belakangan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melirik tanggul laut
raksasa Samangeum, Korea Selatan. Namun, tanggul laut terpanjang di dunia itu
bukan tanpa masalah. Setelah terhenti dua tahun karena protes keras
masyarakatnya, tanggul laut 33,9 km itu selesai dibangun pada 2006.
Riset Hye Kyung Lee dari Seoul National University (2013),
kualitas air yang digelontorkan dari dua sungai ke dalam tanggul ternyata
tercemar industri pertanian dan peternakan di hulu. Akibatnya, ide sebagai
sumber air bersih tak terwujud.
Bagaimana dengan Teluk Jakarta, muara 13 sungai yang tercemar?
Riset Badan Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPDP BPPT) menyebut, pembangunan tanggul laut akan menaikkan muka air di dalam
tanggul hingga 0,5-1 meter setelah 14 hari simulasi. Arus air di dalam tanggul
juga mengecil sehingga kualitas air dalam tanggul memburuk secara progresif.
Peneliti BPDP BPPT, Widjo Kongko, menyebut, penurunan kualitas
air itu ditandai dengan perubahan signifikan parameter lingkungan, seperti
kenaikan biological oxygen demand (BOD) lebih dari 100 persen, penurunan dissolved
oxygen (DO) lebih
dari 20 persen, dan penurunan salinitas air lebih dari 3 persen.
Widodo Pranowo, peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan
Sumber Daya Laut dan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengatakan,
proyek itu akan berdampak ekologis, bukan hanya terhadap pesisir Jakarta dan
Kepulauan Seribu, melainkan juga hingga Banten. ”Tanggul ini bisa menjadi
comberan raksasa,” katanya.
Selain itu, tanggul akan menyebabkan perubahan arus laut dan
akan menggerus beberapa pulau di Pulau Seribu, salah satunya Pulau Onrust.
Adapun dampak di pesisir Serang, Banten, seperti dikemukakan Kepala Kelompok
Peneliti Kerentanan Pesisir KKP Semeidi Husrin, berpotensi merusak pesisir
Banten karena pasir reklamasi Teluk Jakarta dari Banten.
Jadi, seharusnya yang dipikirkan dulu adalah menata air di hulu,
bukan bendung di hilir. Tanggul laut Jakarta untuk siapa?
Untuk siapa?
Setiap pembangunan kota perlu diukur manfaat dan dampaknya bagi
warga, demikian pula rencana pembangunan tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta.
Siapa akan menangguk untung dan siapa kelak yang menanggung dampak buruknya
harus terjelaskan kepada publik karena kota dibangun untuk warga, bukan
segelintir elite, seperti politisi atau pebisnis.
Wacana pembangunan tanggul laut raksasa Jakarta dan reklamasi
dalam bentuk pulau-pulau muncul pada era Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo,
dengan usulan datang dari konsultan Belanda. Awalnya disebut Sea Dike Plan
Tahap III dan akan dibangun pada 2020-2030.
Proyek itu lalu dimasukkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) DKI untuk 2010-2030. Disebutkan, untuk mengatasi pasang naik air laut
yang semakin tinggi karena pemanasan global, akan dibangun pulau-pulau dengan
cara reklamasi. Pulau itu akan dilengkapi tanggul laut raksasa.
Belakangan, proyek yang kini disebut ”Pembangunan Pesisir
Terpadu Ibu Kota Negara” juga dimaksudkan untuk menyediakan sumber air bersih.
Asumsinya, tanggul akan terisi air tawar dari 13 sungai yang bermuara di
dalamnya. Dengan penyediaan air baku, diharapkan penyedotan air tanah pemicu
penurunan daratan hingga 10 cm per tahun dapat dihentikan.
Dengan alasan itu pula, pada Juni 2013, pemerintah pusat bersama
Pemprov DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten bersepakat mempercepat proyek itu.
”Untuk giant sea wall, dari jadwal awalnya tahun 2020, akan groundbreaking pada 2014,” kata mantan Menteri
Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, di Jakarta, seperti dikutip Kompas,
Kamis (7/3/2013).
Kamis (9/10/2014), pemancangan tiang pertama itu akhirnya
dilakukan, menandai pembangunan tanggul laut sepanjang 32 kilometer atau Tahap
I dari tiga lapis tanggul. Dari panjang itu, pemerintah pusat dan Pemprov DKI
hanya akan menanggung pembiayaan 8 kilometer dengan dana Rp 3,5 triliun.
Sisanya, 24 km dibiayai swasta pemegang konsesi lahan reklamasi.
Ahmad Arif.
Sumber : Koran Kompas.
Tanggapan :
Pembangunan Giant Sea Wall ini justru akan memperparah banjir karena akan memperpanjang aliran air sungai dan akan mengakibatkan laju desimentasi meningkat dikarenakan laju aliran air yang menurun, hal ini juga menimbulkan masalah karena perlu adanya upaya pengerukan sungai yang tidak sedikit biayanya.
Dampak lain adalah penutupan dua pelabujan perikanan Nusantara. ribuan nelayan harus dipindahkan. Pembangkit listrik muara karang juga harus ditutup karena aliran air pindingin tidak lagi tersedia. kalaupun dipertahankan, biaya operasinya sangat besar karena memerlukan pompa yang berjalan terus.
Tanggul laut raksasa yang direncanakan dalam sistem tertutu[p membuat air tidak mengalir. Karena itu, kualitas lingkungan laut jakarta akan rusak.
Rabu, 11 November 2015
DASAR ARSITEKTUR EKOLOGI
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari
hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekologi itu
sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Haeckel, ahli ilmu hewan pada
tahun 1869 sebagai ilmu interaksi antara segala jenis mahluk hidup dan
lingkungannya. Sedangkan menurut arti kata dalam bahasa yunani ekologi berarti
ilmu tentang rumah atau tempat tinggal mahluk hidup.
Ekologi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Dasar-dasar sebuah ekosistem adalah komunitas dan kawasan alam. Ekosistem
terdiri dari unsur hayati dan non hayati, terdiri dari hubungan-hubungan timbal
balik di dalam dan diantara organisme dengan lingkungan abiotik. Masing-masing
mempengaruhi sifat-sifat lainnya dan keduanya perlu untuk memelihara kehidupan
sehingga terjadi keseimbangan, keselarasan, dan keserasian alam di bumi ini.
Ekosistem terdiri dari 4 komponen dasar yaitu; lingkungan abiotik, organisme
produsen, organisme konsumen dsan organisme perombak. Perbedaan ekosistem yang
satu dengan yang lain dapat dilihat dari jumlah jenis organisme produsen,
jumlah organisme konsumen, jumlah keanekaragaman mikroorganisme, jumlah dan
macam komponen abiotik, kompleksitas interaksi antarkomponen, berbagai proses
yang berjalan dalam ekosistem. Pada ekosistem alam yang lengkap tidak
dibutuhkan pemeliharaan atau subsidi energi karena dapat memelihara dan
memenuhi sendiri, dan selalu berada dalam keseimbangan. Keanekaragaman
ekosistem dapat terbentuk secara alami dari masa ke masa sehingga menciptakan
keanekaragaman. Keanekaragaman ekosistem dapat menunjukan evolusi.
Komunitas adalah
bagian terbesar ekosistem yang terdiri dari kumpulan tumbuhan dan binatang yang
bersama membentuk masyarakat . suatu komunitas terdiri dari banyak jenis dengan
berbagai macam kegoncangan (fluktuasi)populasi yang saling mempengaruhi.organisme
dalam suatu komunitas saling berhubungan karena melalui proses-proses kehidupan
yang saling berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Suksesi dan klimaks adalah perubahan-perubahan atau
pergantian-pergantian tanpa ataupun dengan campur tangan manusia. Suksesi
sekunder hampir sama dengan suksesi primer, perbedaannya adalah pada keadaan
kerusakan ekosistem atau kondisi awal habitatnya. Ekosistem tersebut mengalami
gangguan tapi tidak total, masih ada komunitas yang tersisa.
Ceruk ekologis berarti
lekuk atau jeluk di alam yang dimanfaatkan oleh tanaman atau makhluk hidup
tertentu sehingga aman tanpa gangguan. Batas toleransi pada masing-masing
makhluk hidup sangat berbeda-beda, maka kepekaan terhadap pengaruh lingkungan
berbeda pula. Ada makhluk hidup yang bersifat generalis (yang dapat hidup
hampir dimana saja) dan ada yang bersifat spesialis (yang menuntut curug
ekologis).
Aliran
dalam ekosistem
Organisme-organisme
dan kemampuannya tergantung pada aliran energi dan zat-zat yang dapat
dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memproduksi materi organik. Energi surya
dibutuhkan untuk menjalankan peredaran materi tersebut karena elemen-elemen
vital dan alat bantu yang dapat digunakan oleh organisme-organisme pada
ekosistem alam tidak tersebar merata. Aliran ini disebut daur, siklus, atau
peredaran. Namun istilah yang sekarang sering digunakan adalah peredaran karena
paham yang cukup jelas dan tepat bila dibandingkan dengan istilah yang lain.
Peredaran bahan alam, dengan memperhatikan hubungan pangan pada suatu jenis
binatang terlihat bahwa disatu sisi merupakan bahan makanan dan disisi lain
adalah musuh. Namun yang terjadi sebenarnya adalah peredaran. Tidak semua
tumbuhan atau binatang akan dimakan oleh musuhnya, tetapi banyak juga yang mati
karena sebab yang lain. Bahan ini akan dimakan oleh organisme perombak yang
akan menyediakan mineral yang dibutuhkan tumbuhan sebagai pupuk. Di waktu yang
sama tumbuhan membutuhkan kerbondioksida dari udara dan menyediakan oksigen
bagi binatang dan manusia.
Hipotesis Gaia
“Kehidupan bukan menciptakan
lingkungan menurut kebutuhannya. Kehidupan bukan merupakan faktor penentu
melainkan sistem keseluruhan termasuk kehidupan dan lingkungan material.”
Hipotesis Gaia memberi
pandangan baru tentang planet bumi kita, meningkatkan pengertian tentang
kebodohan yang memusnahkan ribuan jenis mahkluk hidup di bumi, yang akan
menghancurkan dasar kehidupan kita.
Pembangunan
dan Kerusakan Alam
Tugas dan Kualitas Arsitek
- Kepentingan landasan bersama antara pencipta dan pengguna adalah tuntutan utama pada arsitektur ekologis.
- Merealisasikan cita – cita tentang si pengguna.
- Mengedepankan alam dan lingkungan dalam proses merancang serta tidak melupakan fungsi utama serta citra dari si pengguna.
Jejak
Ekologis
Alam
mempunyai pola tersendiri untuk menjaga keseimbangannya begitu juga manusia,
namun umumnya manusia hanya meninggalkan jejak yang merusak pada alam, bangunan
yang baik adalah bangunan yang tidak mengakibatkan efek negatif akibat dari
pembangunan dan penggunaannya.
Membangun
untuk Menghuni
Dalam membangun hal kenyaman menjadi salah satu acuan
penting, arsitektur ekologis tidak hanya mengedepankan ketepatan dalam
pemilihan bahan bangunan, menyusun rangka, respon tiap aspek terhadap
lingkungan saja, namun juga memperhatikan kenyamanan si pengguna dari mulai
merencakan bentuk bangunan hingga menyusun ruang dalam bangunan demi mencapai
kenyamanan si pengguna itu sendiri.
Kesimpulan
Semakin lama manusi
membangun bangunan tanpa memikirkan lingkungan sekitar. Seharusnya tidak
seperti itu, karena manusia tidak dapat jauh dari alam dan manusia harus hidup
berdampingan dengan alam.
Seorang Arsitek harus memikirkan
harus dapat menciptakan ruang/bangunan yang dapat menyatu dengan lingkungan dan
tidak merusak lingkungan sekitar sehingga dapat menjamin ruang hidup yang
berkualitas. Pengertian dan penerapan arsitektur ekologi dapat
membantu pencapaian tujuan tersebut yang tinggi sekali sehingga arsitek masa
depan penuh rasa tanggung jawab terhadap sesama manusia dan terhadap alam
sekitarnya.”
Rabu, 04 November 2015
#3
RANGKUMAN BUKU ARSITEKTUR & LINGKUNGAN
ARSITEKTUR BIOLOGIS
Arsitektur biologis adalah
suatu ilmu penghubung antara manusia dan lingkungannya secara keseluruhan. kata
biologis itu sendiri berasal dari kata bios yang berarti kehidupan / alam tumbuh-tumbuhan
dan logos yang berarti dunia teratur, dunia berakal.
Rumah tempat tinggal bisa dianggap sebagai suatu susunan organis yg berfungsi sebagai kulit manusia. Arsitektur biologis memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan lingkungan atau alam sekitar.
Rumah tempat tinggal bisa dianggap sebagai suatu susunan organis yg berfungsi sebagai kulit manusia. Arsitektur biologis memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan lingkungan atau alam sekitar.
·
LINGKUNGAN
MANUSIA
Setiap pembaruan merupakan
suatu pembaruan atau perubahan lingkungan yang berarti perhatian atas
arsitekturenya dan atas kualitas kehidupan manusia. Kualitas masa lalu hingga
sekarang cenderung terus menurun. Kehidupan manusia yang seimbang dengan alam
akan membutuhkan pengertian baru bagi istilah-istilah yang ada, seperti
misalnya pengertian waktu, ruang, ukuran, fungsi, lingkungan dan sebagainya.
·
PENGARUH
ENERGI
Salah satu cara untuk
mencapai keseimbangan dengan alam ialah memberikan perhatiaan lebih pada daya
energi yg digunakan, kita membutuhkan perhitungan energi dengan memperhatikan,
misalnya:
Ø Energi
untuk eksploitasi bahan bangunan
Ø Energi
untuk persiapan bahan bangunan
Ø Energi
untuk transportasi bahan bangunan
Ø Energi
untuk mendirikan gedung
Ø Energi
untuk memelihara gedung
Ø Energi
untuk perubahan penggunaan gedung
Ø Energi
untuk membongkar gedung tersebut dsb.
·
TEKNOLOGI
PROTEKTIF (PERLINDUNGAN)
Menurut Prof.H.R.Hugi pada
makalahnya Angepesste Technologie fur Entwicklungslander keseimbangan meliputi
:
Ø Seimbang
dengan alam
Ø Seimbang
dengan manusia
Ø
Seimbang dengan lingkkungan
PENGERTIAN
WAKTU
·
SEJARAH
Pembangunan dan kebudayaan
merupakan bentuk sejarah manusia. Terutama pada masa yang lalu pembangunan
rumah kediaman berarti tanda kehidupan, berarti aktivitas oleh masyarakat
setempat. Kehidupan ditentukan oleh agama, kebudayaan dan masyarakat setempat.
·
Waktu
sekarang
Waktu sekarang merupakan peralihan antara sejarah masa
lampau dan masa depan. Cara membangun sudah berubah. Pada masa lalu atap
merupakan perlindungan dan tujuan utama rumah kediaman, sedangkan pada masa
sekarang sudah jauh berbeda karena penghuni bermukim lebih padat. Kini
dibutuhkan keamanan untuk rahasia pribadi, sehingga dinding-dinding dibangun.
Kini orang membutuhkan kesenangan hidup dengan fasilitas aliran listrik,
membutuhkan air sehat, lingkungan sehat dengan drainase dan sebagainya.
Penghuni tidak dapat membangun rumahnya lagi, karena didahului oleh teknologi
dan pengkhususan tukang dan ahli.
PENGERTIAN
RUANG
· Alam
Manusia dan kebudayaannya
serta peradaban yang dihasilkan terletak pada alam disekitarnya dengan hukum
alamnya. Dari keseimbangan dengan lingkungan sosial-kebudayaan tertentu,
kemudian dibuat faktor-faktor lingkungan, serta pembangunan rumah, pondok dan
sebagainya. Kualitas perumahan akan meningkat dengan keselarasannya dengan alam
sekitar, ketentuan ini akan menjadi dasar ekologi manusia.
· Manusia
Pengertian ruang sejauh
berhubungan dengan manusia merupakan sesuatu yang sangat sulit dijabarkan, sama
sulitnya dengan pengertian ruang dalam kaitannya dengan masyarakat.
· Masyarakat
Selamanya manusia bekerja
dan melakukan sesuatu yang berimbang dengan kemanusiaan dan alam. Kesulitan
selalu terdapat pada manusia dan citra dirinya, yakni hubungannya sebagai
individu dengan masyarakat, kebudayaan dengan agama. Sebagai keterangan,
misalnya kita dapat mengerti bahwa kelaparan yang terdapat diseluruh dunia
dapat diubah dengan makanan. Asal ada makanan, maka kelaparan tidak akan ada.
Di bidang perumahan, pembangunan dan pemukiman, cara penyelesaian di atas tidak
akan berjalan, justru karena perbedaan pengertian pengertian yang begitu
beragam di daerah atau negara masing-masing.
· Bangunan
PENGERTIAN
UKURAN
· Perbandingan arsitektur alam dan teknik
Arsitektur masa depan harus
lebih efisien dengan menggunakan energi yang jauhlebih sedikit. Arsitektur
seharusnya lebih biologik dan memperhatikan lingkungan.
· Peradaban (sivilisasi) dan kebudayaan
PENGERTIAN
FUNGSI
Fungsi menentukan arti. Perlindungan terhadap kehidupan
manusia ialah tujuan pembangunan. Fungsi melindungi tidak boleh dicampur dengan
fungsionalisme sebagai gaya arsitektur. Pengertian fungsi tentunya jauh lebih
luas. Pada alam, semuanya bersifat fungsional, semua mempunyai fungsi, dan
jikalau arsitektur biologis dapat diterapkan sebagai semacam arsitektur alam
maka semuanya juga berfungsi.
· Situasai dan analisa site
Analisa site sebagai dasar
perencanaan tidak mencukupi lagi untuk perencanaan kulit manusia ketiga jika
hanya arsitek saja yang menentukan letak site tersebut. Ia membutuhkan bantuan
ahli-ahli lain sehingga penilaian atas site bersifat menyeluruh.
· Ruang dan iklim
Bangunan dan konstruksinya
dibutuhkan manusia antara lain untuk menghdapi pengaruh iklim. Faktor penting untuk
membangun perlindungan terhadap cuaca dan iklim tersebut ialah penyinaran,
suhu, kelembaban udara, ventilasi dan sebagainya.
· Energi dan bahan bangunan
· Cara membangun dan konstruksi bangunan
Ø
Bagian
bangunan utama
Ø
Bagian
bangunan yang bersifat pelengkap
PENGERTIAN
LINGKUNGAN
· Lingkungan alam
Sifat, cara pemilihan dan
pengelolaan atas tanah serta bangunan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat,
ikut menjadi faktor penentu dalam pembangunan pemukiman maaupun kelangsungan
kehidupan manusia sehari-hari.
·
Lingkungan
sekitar (Lingkungan buatan)
Tuntutan tersebut harus
dijawab dengan menggalakkan penggunaan bahan bangunan setempat seperti kayu,
bambu, batu kali, tanah liat, tras, pasir, rumbia dan mengurangi penggunaan
bahan bangunan seperti semen, asbes semen, plastik, baja, kaca, aluminium dan
sebagainya yang penyediannya sangat memboroskan energi dan sumber alam.
Arsitektur biologik bukan lagi seni semacam seni patung saja, melainkan
terutama mendasar pada penggunaan bahan-bahan bangunan biologik.
·
Lingkungan
sosial dan ekonomi
·
Bahan
bangunan yang dapat dibudidayakan lagi
Ø
Kayu
Ø
Bambu
Ø
Rumbia,
alang-alang dan ijuk
·
Bahan
bangunan alam yang dapat digunakan lagi
Ø Tanah,
tanah liat dan lempung
Ø Batu
alam
· Bahan bangunan alam yang dapat
disediakan oleh industrial
Ø Batu
buatan yang dibakar (batu merah)
Ø Genting
flam dan genting pres
Ø Batu
buatan yang tidak dibakar (batako)
PERENCANAAN ARSITEKTUR BIOLOGIS
· Tujuan pembangunan biologis
Penyelidikan arsitektur dan
pembangunan mempunyai tujuan yang berbeda satu sama lain. Dalam penyelidikan
itu biasanya bagian teknik dan ekonomi lebih diutamakan, sekalipun teknik
tersebut belum pasti menjadi teknik yang terbaik. Pada umumnya dalam hal-hal dasar
dan standar, terutama dibidang bahan, bangunan biologik masih mengalami cacat.
Sebenarnya, pada semua penyelidikan seharusnya diperhatikan juga soal
psikologi dan ekologi secara indisipliner.
· Bentuk bangunan dan bahan bangunan
Bahan bangunan dan konstruksi
bangunan adalah dua unsur pembentuk bangunan. Akan tetapi bentuk bangunanpun
ditentukan oleh fungsinya, menurut kebutuhan dasar penghuninya dan cara
membangunnya, yaitu cara membatasi ruang tersebut secara konstruktif dengan
lantai, dinding, susunan atap dan sebagainya.
· Sistem perencanaan
Perencanaan arsitektur
biologik dengan bahan bangunan biologik merupakan suatu lintas ilmu yang
melibatkan antara lain insinyur, ahli bangunan dan pemberi tugas (bouwheer).
Kerja sama yang baik antara mereka yang terlibat akan memungkinkan optimalisasi
dalam perencanaan.
· Arsitektur tradisional
Istilah arsitektur
tradisional dapat diartikan sebagai suatu arsitektur yang diciptakan/dilakukan
dengan cara yang senantiasa sama sejak beberapa generasi. Dengan demikian,
arsitektur tradisional memperlihatkan hubungan manusia dengan sejarahnya dalam
bidang bangunan dan permukiman
Langganan:
Postingan (Atom)




